Shop now to get your free shipping offer. SHOP NOW

Tiga Nama, Satu Tujuan: Banyuwangi

Tiga Nama, Satu Tujuan: Banyuwangi

Ada yang kembali dengan pengalaman. Ada pula yang datang untuk kedua kalinya, sementara satu lainnya akan menghadapi perjalanan ini untuk pertama kalinya. Namun, ketiganya datang dengan satu tujuan: menaklukkan perjalanan panjang Bentang Jawa.

Bentang Jawa kembali menghadirkan cerita baru. Di antara para peserta yang akan menempuh perjalanan panjang dari Carita menuju Banyuwangi, ada tiga sosok dengan cerita berbeda: Zidan, yang akan menjalani Bentang Jawa untuk ketiga kalinya, Joko yang kembali untuk keikutsertaan keduanya, serta Rieco yang akan menjalani Bentang Jawa untuk pertama kalinya.

Bagi Zidan, pengalaman bukan berarti Bentang Jawa menjadi lebih mudah. Justru hadirnya banyak wajah baru dan perubahan di beberapa titik rute membuat edisi kali ini semakin menarik untuk dinantikan.

Di tengah pekerjaan yang semakin padat dan waktu latihan yang terbatas, ia memilih fokus menjaga kondisi dan performa. Tidak ingin menambah tekanan mental, Zidan ingin menikmati perjalanan sekaligus siap mengubah strategi jika kondisi di lapangan menuntut demikian.

“Saya pun tak mau menambah tekanan mental sedikit pun agar saya bisa menikmati setiap detik perjalanannya.”

Namun di balik pendekatan yang tenang itu, Zidan tetap menyimpan satu ambisi: memberikan kejutan di garis finish.

Sementara itu, Rieco dan Joko datang dengan pengalaman yang berbeda. Bagi Rieco, rute Carita–Banyuwangi akan menjadi pengalaman pertamanya. Rasa excited sekaligus deg-degan pun menjadi bagian dari persiapan menghadapi perjalanan ultra ini.

Berbeda dengan Rieco, Joko sudah memiliki pengalaman menghadapi Bentang Jawa. Keikutsertaan keduanya membuat ia tidak lagi benar-benar datang sebagai orang baru. Pengalaman dari edisi sebelumnya tentu menjadi bekal, sekaligus bahan untuk mengevaluasi strategi dan persiapan menghadapi perjalanan kali ini.

Meski demikian, perjalanan sejauh ini tetap menyimpan banyak kemungkinan. Ban bocor, masalah teknis, kondisi tubuh yang menurun, hingga overthinking menjadi bagian dari tantangan yang harus siap mereka hadapi.

Target mereka pun cukup berani: finish 10 besar, dengan satu prinsip utama, finish dalam kondisi sehat. Persiapan juga dibuat lebih serius. Mulai dari program latihan, barang bawaan, hingga mempelajari rute, semuanya dipersiapkan karena Bentang Jawa akan menjadi ultra 1500 kedua bagi mereka.

Menariknya, nama-nama besar yang akan mereka hadapi justru bukan sumber tekanan. Mereka adalah motivasi. Ketika kondisi di lapangan mulai tidak sesuai rencana, ada satu hal yang ingin tetap mereka pegang: ketabahan.

“Selama sepeda itu masih bisa dipancal dan masih punya cukup spare waktu untuk under COT, insyaallah saya akan tetap selesaikan.”

Zidan datang dengan pengalaman tiga kali mengikuti Bentang Jawa. Joko kembali dengan pengalaman keduanya, sementara Rieco datang membawa rasa lapar seorang debutan. Namun ketiganya memiliki satu kesamaan: tidak ingin sekadar menyelesaikan Bentang Jawa. Mereka ingin meninggalkan cerita.

Bagi Zidan, mungkin cerita itu datang dari pengalaman dan strategi yang lebih matang. Bagi Joko, dari kesempatan kedua untuk membuktikan apa yang sudah dipelajari. Sementara bagi Rieco, mungkin justru dari keberanian seorang debutan yang datang dengan target untuk membuat kejutan.

Karena pada akhirnya, Bentang Jawa bukan hanya tentang siapa yang paling cepat sampai. Ini tentang bagaimana setiap peserta menghadapi lelah, ketidakpastian, kendala teknis, perubahan rencana, dan suara dalam kepala yang meminta untuk berhenti. Ketika perjalanan dimulai, semua rencana akan diuji.

Dan ketika akhirnya tiba di Banyuwangi, yang tersisa bukan hanya catatan jarak, tetapi cerita tentang bagaimana mereka berhasil melewatinya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please note, comments must be approved before they are published