Semakin Panjang, Semakin Menantang: Zidan Menghadapi Bentang Jawa Ketiga
Bentang Jawa yang ketiga kali ini, saya merasa excited dengan banyaknya wajah baru yang ikut berpartisipasi. Di sisi lain, saya juga cukup deg-degan sekaligus penasaran dengan adanya beberapa perubahan dan tambahan rute yang membuat edisi kali ini terasa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya selalu berusaha maksimal untuk mencapai finish dengan hasil terbaik. Namun, kali ini saya lebih fokus menjaga kondisi dan performa karena pekerjaan yang semakin padat membuat waktu latihan saya jauh berkurang. Dengan kondisi tersebut, saya sadar bahwa saya harus lebih pintar mengatur tenaga dan tidak bisa hanya mengandalkan latihan seperti sebelumnya.
Saya juga tidak pernah ingin meremehkan siapa pun peserta. Justru saya selalu termotivasi dengan kehadiran para peserta lain. Saya tidak ingin menambah tekanan mental sedikit pun kepada diri sendiri. Bagi saya, yang terpenting adalah bisa menikmati setiap detik perjalanan, membaca kondisi di lapangan, dan berusaha bermain seaman mungkin dengan mengubah strategi kapan pun diperlukan demi bisa mencapai finish.

Tantangan tahun ini terasa lebih berat karena rute memiliki lebih banyak obstacle. Tambahan rute di Jogja menghadirkan tanjakan yang lebih ekstrem, ditambah rute gravel di Tulungagung yang tentunya membuat Bentang Jawa kali ini semakin menantang dan membutuhkan waktu lebih panjang.
Salah satu bagian yang paling berkesan bagi saya adalah hadirnya rute baru yang melewati Pantai Parangtritis dan tanjakan Obelix yang sangat curam. Karakter rute seperti ini membuat perjalanan menjadi jauh lebih menarik sekaligus menguras tenaga. Setiap perubahan kontur benar-benar harus diperhitungkan agar tenaga tidak habis terlalu cepat.

Di tengah perjalanan, saya juga sempat mengalami kendala teknis. Baut barfly yang digunakan untuk memasang lampu dan cyclocomputer patah akibat melewati jalan yang rusak. Mau tidak mau saya harus mencari solusi cepat. Barfly akhirnya saya ikat menggunakan cable ties dan solasi yang dililitkan memutar. Memang bukan solusi ideal, tetapi setidaknya masih cukup kuat untuk memasang cyclocomputer sehingga saya tetap bisa memantau perjalanan.
Dalam hal strategi, saya juga punya cara tersendiri untuk menghadapi persaingan, khususnya saat berhadapan dengan Adrien. Saya mencoba melakukan strategi tarik-ulur pergerakan. Saya membiarkan Adrien tetap bersemangat mengejar, tetapi pada saat yang tepat saya menjaga agar pergerakannya terus menguras tenaga. Targetnya adalah membuat dia kehilangan tenaga ketika memasuki tanjakan Bromo, terutama karena dia belum mengetahui secara pasti bagaimana kondisi dan kontur tanjakan tersebut.

Namun, di atas semua strategi dan persaingan, saya tetap berusaha menikmati perjalanan. Bentang Jawa bagi saya bukan hanya tentang siapa yang lebih cepat atau siapa yang lebih dulu sampai di garis finish. Ada banyak hal yang terjadi sepanjang perjalanan, mulai dari perubahan rute, kondisi jalan, kendala teknis, sampai bagaimana kita mengambil keputusan ketika kondisi tidak sesuai dengan rencana.
Saya akan selalu berusaha bermain seaman mungkin dan siap mengubah segala rencana demi satu tujuan utama: finish.
Dan tentu saja, saya selalu ingin terlihat di garis finish dengan memberikan sebuah kejutan. Karena bagi saya, Bentang Jawa kali ini bukan sekadar perjalanan ketiga, tetapi sebuah pengalaman baru dengan rute yang lebih ekstrem, persaingan yang semakin menarik, dan cerita yang membuat edisi kali ini jauh lebih berkesan.